Ghibah atau menggunjing merupakan salah satu perbuatan yang dilarang oleh agama Islam karena dapat menimbulkan dampak negatif seperti perpecahan, menciptakan permusuhan, merusak amal ibadah, hingga mengundang murka Allah.
Secara definisi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada saudaranya ketika ia tidak hadir dengan sesuatu yang benar tetapi tidak disukainya. Sederhanya, ghibah adalah membicarakan kejelekan atau keburukan orang lain, meskipun hal itu benar adanya di belakang orang yang dibicarakan.
Perbuatan ini dilarang dan bahkan termasuk ke dalam perbuatan yang mendatangkan dosa karena merugikan diri sendiri maupun orang lain. Allah SWT bahkan menyebutkan bahwa ghibah sama saja seperti sedang memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat ayat:12)
Mengapa Islam Melarang Perbuatan Ghibah
Ghibah dilarang karena termasuk perbuatan negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Bahkan disebutkan dalam satu keterangan bahwa orang yang berghibah sama halnya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri, mengerikan bukan? Berikut adalah sejumlah alasan lainnya mengapa perbuatan tersebut dilarang dalam Islam.
1. Menimbulkan Kesan Buruk
Membicarakan keburukan orang lain dapat memberikan citra buruk bagi objek yang dibicarakan, bahkan perbuatan tersebut bisa juga termasuk pembunuhan karakter. Hal itu dikarenakan ghibah seringnya membicarakan aib, kesalahan atau keburukan orang lain, sehingga dengan melakukannya dapat merusak reputasi orang lain.
2. Menimbulkan Perpecahan dan Permusuhan
Perilaku negatif ini dapat memberikan dampak negatif yaitu timbulnya perpecahan bahkan hingga permusuhan. Hal ini terjadi ketika orang yang dibicarakan kejelekannya mungkin saja mendengar dan merasa tersinggung, marah dan bahkan dendam kepada orang yang membicarakannya.
Tentunya tidak selesai sampai disitu, orang yang turut mendengarkan pembicaraan negatif atau buruk terhadap orang lain bisa jadi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga bisa ikut membenci korban (orang yang dighibahkan).
3. Berisiko Menyebarkan Fitnah
Membicarakan orang lain juga memiliki risiko menimbulkan fitnah dan bahkan menyebarkannya. Seperti yang kita ketahui, bahwa ghibah biasanya berisi informasi yang tidak sepenuhnya akurat dan bahkan cenderung dibumbui dengan opini serta asumsi pribadi.
Saat seseorang menceritakan keburukan orang lain, detailnya bisa terdistorsi, baik disengaja maupun tidak. Ketika informasi yang tidak benar ini diteruskan ke orang lain, hal itu berubah menjadi fitnah yang bisa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar lagi.
4. Merusak Amal Ibadah
Membicarakan keburukan orang lain termasuk ke dalam perbuatan dzhalim karena dapat merugikan dan bahkan merusak reputasi korban. Artinya, perbuatan dzhalim ini memiliki potensi untuk merusak amal ibadah orang yang melakukannya, sehingga dalam keterangan di atas disebutkan bahwa perbuatan ini tak hanya merugikan orang lain, namun juga diri sendiri.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa pada hari kiamat, akan ada orang-orang yang datang membawa pahala kebaikan setinggi gunung. Namun, semua pahala itu habis dan tak ada artinya untuk mereka karena diberikan kepada orang-orang yang pernah mereka zalimi semasa hidup.
5. Mengundang Murka Allah SWT
Sahabat, ingatkah pada sebuah kisah yang ada dalam rangkaian perjalanan isra’ mi’raj Rasulullah SAW. Dalam perjalanan tersebut, dikisahkan bahwa ada seseorang yang Allah siksa karena perbuatan ghibah. Artinya, orang-orang yang suka ghibah ia akan mendapat siksa kubur seperti hadis dari Abu Bakrah berikut:
“Nabi Muhammad SAW melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: ‘Keduanya sedang disiksa dan mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak menjaga kebersihan ketika kencing dan yang lain disiksa karena berbuat ghibah.”
Dalam hadis lain yang diriwayatkan Anas bin Malik, dijelaskan bahwa membicarakan keburukan seseorang juga dibalas siksa di neraka.
“Rasulullah SAW bersabda: Ketika aku dinaikkan ke langit (dimi’rajkan), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya,: Wahai Jibril, siapa mereka itu? Jibril menjawab: Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka.”
6. Mengganggu Kesehatan Mental
Bagi kesehatan terutama kesehatan mental, ghibah juga berpotensi mengganggu area tersebut baik bagi si pelaku maupun korban atau orang yang dibicarakan. Dalam hal ini, orang yang dibicarakan akan merasa kecewa, malu, bahkan bisa jadi stres dan depresi karena seolah dihakimi.
Di sisi lain, pelaku ghibah biasanya memiliki penyakit hati seperti iri, dendam, dengki, dan sebagainya. Berghibah hanya akan membuat penyakit hati ini makin subur dan bisa mengganggu kejiwaan.
Pelaku ghibah juga cenderung fokus pada kekurangan orang lain dan selalu berusaha mencari-cari kesalahan. Akibatnya, hal ini dapat memperparah rasa ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.
7. Menghambat Perkembangan Diri
Berghibah berarti menghabiskan waktu dan energi untuk fokus pada kekurang lain sehingga cenderung menyia-nyiakan waktu. Padahal, waktu dan energi tersebut seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif dan bermanfaat, misalnya fokus pada pekerjaan, keluarga, atau memperbaiki diri sendiri.
Kemudian, kebiasaan ini dapat menghalangi seseorang untuk belajar dari kesalahan, mengembangkan empati, serta tidak mampu bersikap positif karena terbiasa menghakimi dan menilai orang lain. Dengan terjebak pada siklus tersebut, seseorang akan terhambat dalam perkembangan dirinya, baik secara pribadi maupun profesional.
Agar Terhindar dari Perilaku Ghibah
Menghindari perbuatan buruk seperti ghibah dan menggunjing merupakan salah satu hal yang positif. Berikut adalah beberapa cara yang dapat sahabat lakukan agar terhindar dari perbuatan ghibah.
1. Jauhi lingkungan yang buruk
Lingkungan yang buruk maksudnya ialah lingkungan atau perkumpulan yang cenderung sering melakukan perbuatan negatif ghibah, baik disadari maupun tidak.
2. Sibukkan Diri dengan Hal yang Bermanfaat
Banyak hal yang dapat kita kerjakan dan jauh lebih menguntungkan dibanding membicarakan keburukan orang lain. Sehingga menyibukan diri dengan hal positif jadi cara terbaik untuk menghindari sifat tercela tersebut.
3. Tanamkan Mindset Bahwa Menjaga Aib Orang lain = Menutupi Aib Diri Sendiri
Sahabat, dalam hal ini kita bisa menanamkan dalam diri bahwa sebagai seorang hamba kita ini tidak luput dari kekurangan, kesalahan, keburukan yang menjadi aib bahkan dosa bagi kita. Maka tentunya kita juga berharap agar semua kekurangan tersebut dapat tertutup rapat.
Sebab itu, agar terhindar dari perilaku ghibah tanamkan dalam diri bahwa sesungguhnya menjaga aib orang lain adalah perbuatan baik yang juga menjadi cara untuk menutupi aib sendiri.
Demikianlah uraian mengenai alasan dilarangnya ghibah dan beberapa cara yang dapat sahabat lakukan untuk menghindarinya. Jika terlanjur melakukan hal tersebut, tobat menjadi jalan terbaik untuk memohon ampun kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya agar terhindar dari perbuatan tersebut. Sahabat juga dapat membaca artikel ini secara lengkap: Cara Bertaubat ari Perilaku Ghibah
Referensi:
Muslim.or.id. Menjauhi Dosa Ghibah. Diakses pada 27 September 2025 dari https://muslim.or.id/84901-menjauhi-dosa-gibah.html.
Tirto. Mengapa Ghibah Dilarang oleh Agama? Ketahui Dampak Negatifnya. Diakses pada 27 September 2025 dari https://tirto.id/mengapa-ghibah-dilarang-oleh-agama-ketahui-dampak-negatifnya-g7wR.
Inilah Media. Ini 5 Bahaya Ghibah yang Harus Diketahui Umat Islam. Diakses pada 27 September 2025 dari https://www.inilah.com/bahaya-gibah-dalam-islam.












