Sahabat, pada hari raya Idul Adha yang akan tiba pada 10 Dzulhijjah terdapat amalan sunnah yang dapat sahabat kerjakan untuk meraih pahala serta meningkatkan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala dan agama-Nya.
Amalan-amalan tersebut juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang menjadi junjungan umat muslim. Dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah yang dicontohkan oleh beliau, semoga mendatangkan keistimewaan dan menjadikan diri kita mampu lebih baik.
Apa saja amalannnya? Nah, sahabat dapat mengetahuinya dalam artikel berikut ini secara lengkap!
Amalan Sunnah Idul Adha
Seperti kita ketahui, bahwa momen Idul Adha merupakan salah satu momen bagi umat muslim untuk mendapatkan pahala sebanyaknya. Terlebih, pada hari ray aini terdapat salah satu amalan yang disebut sebagai amalan terbaik dan dicintai oleh-Nya yakni menyembelih hewan qurban.
Penyembelihan hewan qurban menjadi representasi betapa besarnya iman dan takwa seorang muslim kepada Sang Pencipta, hal itu sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS pada zamannya. Tentunya, sebagai seorang muslim kita memiliki keinginan untuk meraih iman dan takwa seperti keduanya meskipun hanya setitik saja.
Namun, bila berqurban masih belum bisa kota laksanakan, setidaknya kita semua dapat melalui Idul Adha dengan mengerjakan beberapa amalan berikut ini untuk meraih pahala kebaikan.
1. Mengumandangkan Takbir Pada 10-13 Dzulhijjah
Salah satu sunnah yang dianjurkan untuk mengagungkan Allah dan syiar di hari raya Idul Adha adalah mengumandangkan takbir. Kegiatan takbiran ini bisa sahabat lakukan sejak terbenamnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga hari raya pada 10 Dzulhijjah dan berakhir di Hari Tasyrik 13 Dzulhijjah.
2. Mandi Besar Sebelum Salat Id
Disunnahkan juga bagi sahabat yang hendak melaksanakan shalat ied di hari raya Idul Adha untuk melakukan mandi besar sunnah. Mandi ini sama dengan mandi besar pada umumnya, namun hanya niatnya yang berbeda.
“Dari Nafi’, beliau mengatakan bahwa Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma mandi pada Hari Idulfitri sebelum berangkat ke lapangan.” (HR Malik dan Asy-Syafi’i)
3. Kenakan Pakaian Terbaik untuk Salat Id
Berikutnya, sahabat juga dapat mengenakan pakaian terbaik untuk melaksanakan shalat ied. Hal ini merupakan salah satu sunnah yang bisa sahabat kerjakan pada hari raya Idul Adha. Adapun maksud pakaian terbaik ini bukan berarti pakaian baru dan mahal, melainkan pakaian paling bagus yang kita miliki. Karena sebaik-baiknya pakaian di hadapan Alalh adalah pakaian takwa.
“Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya”. (HR Hakim)
4. Memakai Wewangian
Selain mengenakan pakaian terbaik, kita juga disunnahkan untuk menggunakan wewangian atau parfum. Tentunya, wewangian tersebut harus kita gunakan dengan bijak sehingga tidak berlebihan atau menggangu orang lain yang berada di dekat kita.
Memakai wewangian merupakan salah satu perintah Rasulullah kepada para sahabat ketika memasuki hari raya, sebagaimana disebutkan dalam hadit riwayat Imam Hakim sebagai berikut:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya dan memakai minyak wangi.” (HR Hakim)
5. Tidak Makan Terlebih Dahulu Sebelum Shalat Ied
Berbeda dengan shalat ied pada hari raya Idul Fitri yang dianjurkan untuk makan terlebih dahulu, pada pelaksanaan shalat ied hari raya Idul Adha umat islam dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu hingga usai usai pelaksanaan shalat Ied.
Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad sebagai berikut:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad)
6. Jalan Kaki Menuju Tempat Shalat Id
Amalan sunnah berikutnya yang dapat sahabat kerjakan adalah berjalan kaki menuju tempat Shalat Ied jika tempatnya dekat dan mudah dijangkau. Kemudian, dianjurkan juga agar berangkat lebih awal ke tempat shalat agar sampai tepat waktu dan memiliki jeda untuk mengerjakan amalan-amalan lain di tempat shalat ied seperti mengumandangkan takbir dan dzikir lainnya.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat Id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.” (HR Ibnu Majah)
7. Melewati Jalan Berbeda Saat Pulang dan Pergi
Selain berjalan kaki menuju tempat shalat, sahabat juga dapat mengerjakan sunnah lainnya yakni melalui jalan yang berbeda saat pulang dan pergi. Hal demikian juga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana disebut dalam hadits berikut ini:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika salat Id, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.” (HR Al Bukhari)
Dengan memilih jalan berbeda saat pulang dan pergi shalat ied, terdapat hikmah lain yang mungkin akan sahabat dapat seperti bertemu dengan lebih banyak orang, silaturahmi, hingga mengetahui berbagai kondisi yang terjadi di tempat sekitar.
8. Pererat Silaturahmi
Selain menunaikan shalat ied dan menyembelih hewan qurban, pada hari raya Idul Adha sahabat juga dapat saling mengunjungi satu sama lain untuk mempererat silaturahmi. Silaturahmi juga dapat sahabat lengkapi dengan menyajikan atau memberikan hidangan qurban kepada saudara atau kerabat kita.
Silaturahmi sendiri menjadi salah satu nilai luhur ajaran islam yang dapat membangun persaudaraan dan memperkukuh hubungan sosial. Allah SWT berfirman:
“… dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(QS. An-Nisa: 1)
9. Menunjukan Kecerian dan Kebahagiaan
Hari raya termasuk Idul Adha merupakan hari yang dinanti oleh umat Islam, tentunya hari ray aini harus disambut dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmatnya.
Rasulullah SAW mencontohkan umatnya untuk menunjukkan wajah ceria, berpakaian rapi, dan berbagi kegembiraan dengan sesama di hari raya.
“Sesungguhnya di setiap umat ada hari raya, dan ini (Idul Adha dan Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR Bukhari dan Muslim)
Bahkan, dikisahkan bahwa Rasulullah pernah membiarkan dua gadis kecil bernyanyi di rumah beliau untuk menunjukkan bahwa hari raya adalah waktu untuk kegembiraan yang mana dibolehkan dalam Islam. Keceriaan ini pun tak hanya mencerminkan rasa syukur atas nikmat Allah, tetapi juga menularkan semangat positif kepada orang lain.











