Umat Islam harus memahai bagaimana cara menyelesaikan hutang yang menumpuk. Hal ini dikarenakan hutang yang menumpuk dapat menjadi beban yang berat bagi seseorang, bari secara mental maupun spiritual.
Sebagai bagian dari muamalah yang seringnya sulit dihindari, hutang bisa saja menjebak seseorang dalam situasi tertentu sehingga mengharuskannya meminjam kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini, islam memiliki panduan yang jelas dalam mengelola hutang, mulai dari cara menghindari hingga cara menyelesaikannya.
Artikel ini secara khusus akan membahas tentang cara menyelesaikan hutang yang menumpuk dari beberapa referensi. Sahabat dapat membaca selengkapnya di Bawah ini!
Dampak Negatif Hutang pada Seseorang
Hutang merupakan salah satu bagian dari aktivitas ekonomi yang dibolehkan dalam syariat. Dalam berhutang, umat Islam dianjurkan untuk lebih bijak dan memastikan diri mampu untuk melunasinya. Pasalnya, hutang jika terus menumpuk ia tidak hanya menjadi beban ekonomi saja, melainkan juga menjadi beban mental dan spiritual.
Dalam kondisi tertentu, hutang dapat menjadikan hidup seseorang menjadi tidak tenang, istirahat terganggung, dan bahkan bisa menjerumuskan seseorang pada perilaku dusta serta ingkar janji.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Menurut Asy Syaukani, dalam Nailul Auhor 6:114, hadits di atas adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan utangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits.”
Kemudian, dampak negatif lainnya, berhutang dengan cara yang tidak bijak sehingga menumpuk akan mengajarkan seseorang untuk lebih mudah berbohong. Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di dalam shalat: Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).” Lalu ada yang berkata kepada beliau SAW, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?” Rasulullah SAW bersabda, “Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cara Penyelesaian Hutang dalam Islam
Hutang adalah kewajiban yang harus dibayar dan seseorang yang berutang tentunya harus memiliki itikad untuk melunasinya. Berikut adalah beberapa cara menyelesaikan hutang dalam Islam.
1. Beritikad untuk Segera Melunasi Utang
Saat utang kian menumpuk dan beban di pundak kita semakin berat, hal pertama yang harus ditanamkan dalam diri kita ialah itikad baik untuk segera menyelesaikan atau melunasinya. Setelah menanamkan itikad tersebut, berikutnya adalah mengatur cara untuk membayarnya, apakah membayarnya secara bertahap, membayarnya langsung dengan menjual beberapa aset, atau mengurangi pengeluaran konsumtif dan mengalokasikannya untuk membayar utang.
Semakin cepat terlunasi, maka hal itu adalah yang terbaik. Hal itu sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah yang senantiasa berusaha melunas utang dan tidak menunda-nunda pembayarannya. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang meninggal dan memiliki utang, maka utang itu menjadi tanggungan kami (pihak yang berutang kepada Allah).” (HR. Bukhari)
2. Mencari Bantuan Jika Tidak Mampu
Jika sahabat berutang untuk sesuatu yang sifatnya mendesak seperti sakit atau keperluan lainnya, kemudian mengalami kesulitan dalam melunasinya, maka sahabat dapat dapat mencari bantuan dan berbicara kepada orang yang memberi utang tentang kondisi yang dialaminya. Allah SWT berfirman:
“Jika kalian dalam kesulitan, maka ada tenggang waktu sampai ada kemampuan untuk membayar.” (QS. Al-Baqarah: 280)
Jika utang tidak dapat dilunasi dalam waktu yang telah ditentukan, maka disarankan untuk bernegosiasi dengan pemberi utang agar diberikan waktu tambahan atau pengurangan jumlah utang. Dalam beberapa kasus, jika seseorang benar-benar tidak mampu membayar, pemberi utang dianjurkan untuk memberi keringanan atau bahkan menghapuskan sebagian atau seluruh utang sebagai bentuk kemurahan hati.
3. Berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial
Berikutnya, agar terhindar dari hutang yang menumpuk ialah berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial. Dalam hal ini, islam sangat menekankan pentingnya perencanaan dan pengelolaan keuangan yang baik. Dengan demikian, sebelum memutuskan untuk mengambil pinjaman, kita dianjurkan untuk mempertimbangkan kemampuan dalam melunasinya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan finansial tanpa mempertimbangkan kemampuannya.
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia memiliki utang yang tidak mampu dibayar.” (HR. Muslim)
Jika kita merasa tidak mampu melunasi utang dalam waktu yang ditentukan, maka keputusan terbaik ialah tidak mengambil utang baru tersebut. Adapun jika harus meminjampun hanya dilakukan apabila benar-benar dalam kondisi darurat dan memiliki kemampuan untuk melunasinya.
4. Menjunjung tinggi sifat amanah
Sifat amanah menjadi salah satu hal yang dapat membuat seseorang menaruh kepercayaan kepada kita, termasuk dalam hal hutang piutang. Semakin amanah seseorang, maka ia akan dengan mudah mendapat kepercayaan orang lain. Sebaliknya, semakin tidak amanah maka seseorang akan kesulitan mendapat kepercayaan orang lain.
Dalam masalah utang, ketika kita bersikap amanat dalam mengembalikannya, maka tentu orang akan terus menaruh rasa percaya terhadap kita. Hal ini menjadikan sifat amanah sebagai salah satu barang tentu yang wajib dimiliki dalam hutang piutang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Ketika sifat amanah telah tertanam dalam diri kita, maka kondisi apapun tidak akan menghalangi untuk menyelesaikan utang kepada orang lain. Jika sudah ada, maka akan segera melunasinya, dan jika belum memiliki kecukupan maka akan memberi penjelasan kepada pemberi utang.
5. Bersikap qanaah dan sederhana
Terjerat utang memang tak mengenakkan. Namun, ada solusi ampuh yang sering terlupakan: hidup sederhana. Dengan mengurangi pengeluaran dan memprioritaskan pelunasan utang, kita akan merasakan beban yang perlahan terangkat.
Kuncinya ada pada sikap qana’ah, yaitu merasa cukup dan bersyukur dengan setiap rezeki dari Allah. Ini bukan hanya soal berhemat, tapi juga soal ketenangan batin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah).
Hidup sederhana dan bersyukur akan menuntun kita pada kebaikan, menjauhkan dari gaya hidup konsumtif, dan mempercepat langkah menuju bebas utang. Bayangkan, hidup tanpa dihantui tagihan, dengan hati yang lapang dan jiwa yang tenang. Bukankah itu tujuan kita?
Itulah sahabat penjelasan mengenai tata cara penyelesaian utang kepada orang lain. Semoga bisa mencerahkan dan memudahkan sahabat dalam menyelesaikan utang. Selain melakukan beberapa cara tersebut, kita juga harus senantiasa memohon kepada Allah agar dilunaskan semua hutang dan dijauhkan dari hal tersebut dengan memanjatkan doa.
Sahabat dapat mengetahui doa terbebas dari hutang dalam artikel berikut ini: Doa Agar Dibebaskan dari Hutang
Referensi:
Rumaysho. Terbelit Utang Riba Ratusan Juta, Bagaimana Cara Melunasinya?. Diakses 18 Juli 2025 dari: https://rumaysho.com/9681-terbelit-utang-riba-ratusan-juta-bagaimana-cara-melunasinya.html
Kumparan. 5 Cara Melunasi Hutang Riba dengan Halal. Diakses 18 Juli 2025 dari: https://kumparan.com/tips-dan-trik/5-cara-melunasi-hutang-riba-dengan-halal-21KFDJB4QFt/full











