Konsep Self-Love atau mencintai diri sendiri seringkali dianggap sebagai ide modern yang berakar dari psikologi, yang menekankan pada penerimaan diri dan perawatan mental. Namun, jauh sebelum istilah ini populer, Islam telah meletakkan fondasi yang kokoh mengenai pentingnya menjaga, menghargai, dan menyayangi diri sendiri, bukan dalam artian egois, melainkan sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Self-love yang sesuai syariat adalah kesadaran bahwa tubuh, jiwa, dan akal adalah amanah (titipan) dari Allah subhanahu wa ta’ala yang harus dirawat dengan seimbang. Melalui perawatan diri yang seimbang ini, seorang Muslim dapat beribadah dan melayani sesama dengan lebih optimal.
Self-love dalam Islam jauh melampaui sekadar merawat penampilan fisik atau memanjakan keinginan sesaat. Ia adalah wujud keimanan, di mana kita menyadari harga diri kita yang mulia sebagai ciptaan terbaik, sekaligus menyadari bahwa kita bertanggung jawab untuk menjaga titipan ini agar selamat di dunia dan akhirat.
Pandangan ini menempatkan self-love sebagai kewajiban mulia yang mengarahkan kita pada kedekatan dengan Allah. Untuk memahami lebih lanjut bagaimana Islam memandang dan mendorong praktik self-love, mari kita telusuri dua aspek penting berikut.
Pandangan Islam Terhadap Self Love
Islam tidak hanya membolehkan self-love, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian integral dari ajaran agama, dengan beberapa poin penting yang membedakannya dari konsep sekuler.
1. Diri Adalah Amanah yang Wajib Dijaga
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia adalah pemegang amanah atas diri, jiwa, dan raganya. Kewajiban merawat diri bukan didasari oleh keinginan duniawi semata, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab kepada Allah yang telah menitipkan.
Islam menekankan keseimbangan antara hak Tuhan (ibadah), hak tubuh (istirahat dan perawatan), dan hak orang lain.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, self-love diwujudkan dalam menjaga kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Kemudian, self-love dalam Islam bukanlah egoisme. Merawat diri justru bertujuan agar kita memiliki energi dan jiwa yang sehat untuk beribadah dan berbuat baik kepada orang lain.
2. Penerimaan Diri
Mencintai diri dalam Islam berarti menerima semua kondisi diri baik kelebihan maupun kekurangan sebagai takdir dan ketetapan terbaik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sikap ini dikenal sebagai ridha.
Seorang Muslim mencintai dirinya karena ia adalah ciptaan yang terbaik (Ahsani Taqwim – QS. At-Tin: 4). Menerima kekurangan adalah wujud ridha kepada takdir-Nya dan menumbuhkan rasa syukur.
Daripada terus-menerus mengkritik diri secara negatif, self-love ala Islam mengarahkan fokus pada perbaikan diri dan peningkatan kualitas ibadah (ihsan).
3. Cinta Diri Berlandaskan Cinta Allah
Puncak dari self-love dalam Islam adalah ketika kecintaan terhadap diri sendiri berakar pada cinta kepada Allah yang menciptakannya.
Dengan menempatkan Allah sebagai sumber utama cinta dan ketenangan, seorang Muslim akan mencari kenyamanan jiwa melalui zikir, doa, dan ibadah. Hal ini sejalan dengan firman-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Pentingnya Self Love dalam Islam
Penerapan self-love dalam kehidupan sehari-hari membawa dampak signifikan bagi keimanan dan kualitas hidup seorang Muslim.
1. Fondasi untuk Kesehatan Mental dan Spiritual
Merawat kesehatan mental dan spiritual adalah hal fundamental. Self-love mencegah seseorang jatuh ke dalam keputusasaan (putus asa) dan menguatkan daya tahan diri dalam menghadapi ujian hidup.
Praktik self-love Islami, seperti bertaubat dan husnudzon (berprasangka baik), mencegah seseorang menzalimi diri sendiri dengan rasa bersalah yang berlebihan, karena Allah Maha Pengampun. Ini adalah wujud optimisme yang diperintahkan agama.
2. Mencegah Sifat Hasad dan Suka Membandingkan
Self-love yang sehat membantu seseorang untuk fokus pada perjalanan dan potensi dirinya sendiri tanpa perlu terdistraksi oleh pencapaian atau keberuntungan orang lain.
Dengan menerima dan menghargai nilai diri sendiri, energi diarahkan untuk mengembangkan bakat dan anugerah yang telah Allah berikan. Ini merupakan bentuk syukur yang paling produktif.
3. Membangun Hubungan yang Sehat dengan Sesama (Ukhuwah)
Seseorang yang memiliki self-love yang kuat dan sehat cenderung mampu membangun batasan (boundaries) yang jelas dalam hubungannya, sehingga hubungan tersebut menjadi lebih harmonis dan bebas dari toksisitas.
Ketika kita mencintai dan menghormati diri sendiri, kita dapat memberi kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan atau pengakuan (riya). Ini sejalan dengan konsep ukhuwah Islamiah yang tulus.
Referensi
UIN Antasari. Self Love Menurut Al-Qur’an: Panduan Bahagia Ala Gen Z. Diakses dari: https://kemahasiswaan.uin-antasari.ac.id/self-love-menurut-al-quran-panduan-bahagia-ala-gen-z/
Salman ITB. Self Love adalah Wujud Keimanan Seorang Muslim. Diakses dari: https://salmanitb.com/informasi-artikel/detail/self-love-adalah-wujud-keimanan-seorang-muslim
UII. Self Love dalam Pandangan Islam. Diakses dari: https://informatics.uii.ac.id/2023/06/07/self-love-dalam-pandangan-islam/
Muslim Women’s Association (MWA). Self Love in Islam. Diakses dari: https://mwa.org.au/latest-articles/self-love-in-islam/












