Kisah Kepedulian Umar bin Khattab Terhadap Rakyatnya

You are currently viewing Kisah Kepedulian Umar bin Khattab Terhadap Rakyatnya

Kisah Umar bin Khattab – Umar bin Khattab merupakan khalifah kedua yang ditunjuk setelah wafatnya Abu bakar Ash-Shidiq. Umar bin Khattab merupakan sosok khalifah yang sangat peduli terhadap rakyatnya, ia bahkan rela tak makan enak ditengah kondisi rakyatnya yang sedang kelaparan.

Dalam sebuah kisah, dimasa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab terjadilah Tahun Abu. Saat itu masyarakat Arab tengah menghadapi krisis yang cukup berat. Hujan tak lagi turun yang mengakibatkan pepohonan mengering, dan banyak hewan yang mati mengenaskan. Tanah yang menjadi tempat berpijak menghitam seperti halnya abu.

Kelaparan terjadi di mana-mana. Sebagai khalifah, Umar saat itu menampilkan kepribadian seorang pemimpin yang sebenar-benarnya. Keadaan rakyatnya selalu ia perhatikan dengan seksama, tanggung jawabnya pun dijalankan sepenuh hati.

Ilustrasi pembagian makanan.

Agar kebutuhan rakyatnya terpenuhi, setiap hari Umar menginstruksikan aparatnya untuk menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat, setelah itu rakyatnya berbondong-bondong datang untuk makan.

Kenyataan pahit yang ia jalani saat itu menjadikan hatinya semakin pedih, kecemasanpun kian tebal dalam hatinya. Dengan hati gentar, umar berucap seraya memohon kepada Allah, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”

Menghadapi Tahun Abu tersebut, Umar mengindarkan perutanya dari asupan daging, minyak samin, dan susu. Bukan tak apa, hal tersebut dilakukan semata-mata karena ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang.

Untuk mengisi perutanya, Umar hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun yang mengakibatkan perutnya terasa panas. Umar berkata pada pembantunya, “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Sang pembantupun memasakan minyak tersebut untuk Umar, namun perut Umar kian bertambah panas dan berbunyi nyaring.

Saat perutnya berbunyi dengan nyaring, Umar kemudian menabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Selama masa paceklik yang dihadapinya, hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan secara diam-diam ditemani oleh salah seorang sahabatnya. Umar keluar masuk kampung guna mengetahui kehidupan rakyatnya. Ia sangat mengkhawatirkan jika hak-hak rakyatnya yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Tibalah Umar pada suatu kampung yang terpencil, kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu khalifah terkejut melihat sebuah kemah yang sudah tak layak dan terdengar suara gadis kecil yang menangis berkepanjangan di dalamnya. Umar bersama sahabatnya kemudian bergegas mendekati kemah itu.

Setelah mendekat, Umar melihat seorang perempuan yang tengah menaruh panic di atas tungku api. Asapnya pun mengepul dari panic tersebut, sementara si ibu terus saja mengaduk isi panci tersebut. Umar pun menyapa perempuan tersebut dengan salam, “Assalamu’alaikum.”

Mendengar salam Umar, perempuan itu kemudian menengokan kepada seraya menjawab salam Umar. Akan tetapi, setelah itu ia kembali pada pekerjaannya yakni mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu, apakah ia sakit?” tanya Umar.

“Itu anakku, ia tidak sakit tapi ia kelaparan.” Jawab perempuan itu sedikit tak peduli.

Umar dan Aslam tertegun mendengar jawab perempuan tersebut. Mereka berdua duduk dalam waktu yang cukup lama di depan kemah perempuan tersebut. Gadis kecil itu masih terus menangis, sedangkan si ibunya masih terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Merasa ada sesuatu yang ganjil, Umar bertanya mengenai apa yang dimasak oleh perempuan tersebut.  “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

 “Hmmm, kau lihatlah sendiri!” Perempuan tersebut menoleh dan seraya menjawab, “

Umar dan sahabatnya pun segera melihat panci untuk mengetahui apa yang dimasak oleh ibu tersebut. Betapa kagetnya Umar saat melihat apa yang dimasak oleh perempuan tersebut. Kemudian, dengan sedikit kurang percaya, Umar bertanya, “Apakah kau memasak batu? Untuk apa?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala. Kemudian ia berkata, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga,” Jawab perempuan tersebut dengan suara lirih.

“Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.” Sambung perempuan itu.

Perempuan itu kemudian diam sejenak, setelah itu iya melanjutkan kembali jawabannya “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Baca Juga : Kisah Umar bin Khattab dalam Bersedekah

Mendengar jawaban perempuan itu, Aslam hendak menegur perempuan tersebut dan mengatakan bahwa yang sedang berbicaranya adalah sang khalifah. Namun, Umar mencegah Aslam untuk menegur perempuan tersebut.

Air mata Umar berlinang saat mendengar jawaban perempuan tersebut, iapun kemudian segera beranjak pergi ke Madinah degan cepat bersama Aslam. Sesampainya di Madinah, Umar langsung memikul gandum di punggungnya untuk kemudian diberikan kepada perempuan di kampung tersebut.

Umar meminggul gandum tersebut tanpa istirahat sedikitpun, Ia terlihat keletihan dan Aslam pun hendak membantunya seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu…”

 “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?” Jawab Umar dengan wajahnya yang merah padam.

Mendengar jawaban sang khalifah Aslam tertunduk dan berdiri mematung. Umar terus memikul karung gandum tersebut seraya ingin cepat-cepat memberikannya pada perempuan tersebut.

Share on Whatsapp

Leave a Reply